Transmisi harga asimetris telah menjadi salah satu topik bahasan yang menarik pada ekonomi pertanian. Dalam konteks perdagangan, sebuah pasar akan memiliki integrasi pasar yang baik jika informasi pasar tersebut ditransmisikan dengan cepat serta dengan besaran yang sama. Informasi pasar tersebut dapat berupa informasi harga, volume, serta kualitas produk yang diperdagangkan. Keberadaan transmisi harga asimetris ini bukan hanya menunjukkan adanya gap pada teori ekonomi, tetapi juga sebagai sinyal akan kegagalan pasar.

Transmisi harga didefinisikan sebagai hubungan harga antara dua pasar yang saling berkaitan. Istilah ini juga menjelaskan mengenai efek perubahan harga di satu pasar terhadap pasar lainnya. Efek perubahan ini biasanya diukur melalui elastisitas transmisi harga yang menjelaskan perubahan persentase harga di salah satu pasar akan menyebabkan perubahan persentase harga juga di pasar lain. Dalam jangka panjang, jika terdapat hubungan antara dua pasar, maka dapat dikatakan kedua pasar tersebut saling terintegrasi. Hubungan ini bisa terjadi secara spasial (pasar domestik dan pasar internasional) maupun secara vertikal (antar rantai pasok). Rantai pasok produk pertanian sangat kompleks yang terdiri dari berbagai pelaku dan melibatkan berbagai fungsi yang menjual produk mulai dari petani sampai konsumen akhir serta melibatkan pasar domestik maupun pasar internasional. Hal ini menyebabkan pembahasan mengenai bagaimana harga ditransmisikan mulai dari produksi, pemrosesan, pasar ritel, serta hubungan antara harga pertanian, harga prosesor dan harga ritel menjadi sangat menarik.

Apakah kenaikan dan penurunan harga pada satu tingkat rantai pasokan makanan memiliki efek simetris atau asimetris yaitu ditransmisikan secara berbeda di tingkat lainnya. Jika pasar yang dimaksud adalah pasar domestik dan pasar internasional, apakah kenaikan dan penurunan harga di pasar internasional ditransmisikan secara simetris pada pasar domestik atau apakah semua pesaing di pasar internasional memiliki respon yang sama terhadap kenaikan atau penurunan harga pesaing lainnya. Penelitian-penelitian yang ada menunjukkan transmisi harga produk pertanian tidak selalu ditransmisikan secara simetris. Pada kenyataannya penurunan harga ditransmisikan lebih cepat dan lebih besar di pasar lokal dibandingkan dengan kenaikan harga. Konsekuensi dari transmisi harga asimetris seperti ini bisa sangat berbahaya khususnya bagi produsen lokal berskala kecil. 

Terdapat 3 jenis transmisi harga asimetris menurut Meyer & von Cramon-Taubadel (2004) yang didasarkan pada a) besaran (magnitude), b) kecepatan (speed), serta c) kombinasi besaran dan kecepatan. Transmisi harga berdasarkan besaran menunjukkan respon sempurna Pout pada saat terjadi kenaikan harga. Namun, sebaliknya pada saat terjadi penurunan harga, penurunan harga Pout hanya sebesar setengah dari penurunan harga Pin. Kemudian transmisi harga berdasarkan kecepatan menunjukkan respon waktu penyesuaian Pout secara cepat dengan kenaikan harga Pin. Sebaliknya ketika terjadi penurunan harga, Pout merespon antara t1 sampai t1+n. Transmisi harga berdasarkan kecepatan dan besaran menunjukkan respon Pout akibat kenaikan harga Pin pada t1 hanya direspon sebesar setengahnya dan baru ditransmisi secara penuh pada saat t2. Sebaliknya pada saat terjadi penurunan harga Pin pada saat t1, penyesuaian memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan ketika kenaikan harga Pin pada saat t3. Secara umum, besaran penurunan Pout tidak sebesar penurunan harga sebenarnya dari Pin (gambar 1, 2, 3). 

Selain dibedakan berdasarkan kecepatan merespon perubahan harga dan besaran perubahan harga, transmisi harga juga dapat dibedakan berdasarkan dampak yang diberikan yaitu berupa transmisi harga positif dan transmisi harga negatif. Transmisi harga positif terjadi ketika respon Pout terhadap kenaikan harga Pin lebih besar dan cepat daripada penurunan harga Pin. Sebaliknya, ketika respon Pout lebih besar dan cepat pada saat terjadi penurunan harga Pin, maka terjadi transmisi harga negatif (gambar 4, 5). 

Gambar 1. Transmisi harga berdasarkan besaran
Sumber: Meyer & von Cramon-Taubadel (2004)
Gambar 2. Transmisi harga berdasarkan kecepatan
Sumber: Meyer & von Cramon-Taubadel (2004)
Gambar 3. Transmisi harga berdasarkan besaran dan kecepatan
Sumber: Meyer & von Cramon-Taubadel (2004)
Gambar 4. Transmisi harga asimetri positif 
Sumber: Meyer & von Cramon-Taubadel (2004)
Gambar 5. Transmisi harga asimetri negatif
Sumber: Meyer & von Cramon-Taubadel (2004)

References:

Meyer, J., & von Cramon‐Taubadel, S. (2004). Asymmetric price transmission: a survey. Journal of agricultural economics55(3), 581-611.

Leave a Reply